hujan

top

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

ngiklan yuk

PERTEMUAN

Hati ini
hanya misteri
Ia menari
diatas deduri-duri
memanas di perapian apiberapiapi
yang terpecik diantara semak
miris
tragis
sadis.
Yogyakarta, 19 Mei 2009
Selengkapnya...

DIAM

Diam dalam iman insan

Diam itu mati DIAM - d.i.a.m D = desakan I = imaji A = analogi M = meneng Kembali pada DIAM
Bergerak tuk diam, Letak diam, pedoman Iman jadi imam Alam berdzikir dalam diam Tuk hikmah
Tumbuh, mekar petuah
Selengkapnya...

Kawan

Hi kawan,

dimanakah jingga?

dimanakah biru?

dimanakah hijau?

Hi kawan,

Aku mencari jingga

Aku mencari biru

Aku mencari hijau

Hi kawan

Bermuaralah di senja senyap

Selengkapnya...

Kisah Semalam

Semanis iman, takmil-tafril-daf’u did diha sempurna cinta saat menunggu jumpa terus bercabang hingga ke akar tak kuasa melawan bertentang sakit dan pahit adalah lezat hawwalatul iman iman insan Sejarah telah membuka dunia lewat kuasaNya, sedang manusia hanya bisa berusaha. Bisa lewat lisan ataupun lewat hati. Melalui tenaga dan kemampuan berfikir yang sejengkal manusia dianggap berusaha. Melalui jiwa yang tipis manusia mencoba merasa. Malam terasa semakin larut, dan hembusan angin yang berdesir makin meneriakakkan jiwaku yang haus kasih. Dalam titian sendu malam ini, kuhayati perlahan manisnya iman yang bisa kurasakan. Seperti bait puisi yang tak sengaja terlantun: takmil-tafril-daf’u did diha, seperti rangkaian tatasurya yang sudah terpola. Kunfayakun semua bisa terlaksana. Hati inipun Dia yang punya. Baru tersadar, ternyata iman insan tak jauh beda dengan jagad dan seluruh isinya. Sudah terskenario nan bisa terbaca. Tiada yang kuasa melainkan Allah Azza Wa Jalla, karena dengan kuasaNya kita ini tiada daya dan upaya. Bahkan hati yang paling tersembunyipun Allah mampu mengendalikan. Subhnallah. Seperti itulah sekelumit kuasa Allah. Betapa indah nan syahdu bila manusia mampu merasakan manisnya beriman karena Islam. Satu-satunya dien yang diridhoi Allah, yakni seperti pada ayat (Al- Maidah:3) : “..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..” Manisnya iman memiliki tingkatan yang mampu dirasakan, seperti sebuah tangga cinta versi Dewi Amor yang menggairahkan. Urutan tangga cinta yang manis itu adalah takmil-tafril-daf’u did diha. Pertama adalah takmiluha, yakni menyempurnakan kecintaan seperti Allah dan Rasul terhadap yang lain. Seperti tak sabar ingin segera bertemu dengan sang kekasih. Level ini memberi kesan halus dan menyentuh, di hatiku seperti tiada terpikir hal seperti itu, padahal ini baru level terendah. Mungkinkah aku sudah berada disini? Pikirku. Aku melanjutkan lagi daya khayalku dalam naungan sendu. Tafriluh, ini adalah level kedua yakni mengembangkan cintanya sampai cabang. Segala hal yang terkait dengan hal yang terjadi, jadikan itu sebagai usaha dalam mencintaiNya. Mengikhlaskan segalanya untukNya. Karena hanya Dia yang punya. Bisa jadi hanya sekedar mencintai orang lain karena Allah. Kemudian Daf’u did diha yakni berbuat yang melawan dengannya. Dengan bukti-bukti: 1) Bisa mengutamakan urusan untuk Allah (At-taubah 24); 2) Keridhoan lahir bila sudah bisa “ikhlas karena Allah” ; 3) Bisa menikmati kelezatan taat “tidak menggerutu” seperti kisah nabi Ayub “infiru… ; 4) Menikmati beban berat dijalan Allah (QS. Ibrahim 24 = ibarat kalimat yang baik ‘tauhid’) Bukan arti aku tak layak berkhayal, aku hanya ingin menanyakan dimanakah aku ini? Pantaskah aku berada dalam putaran iman insan yang begitu manis nan indah. Bilakah pantas, ditangga mana? Layak kah aku disana? Mampukah nurani menjawab? Sedang hati ini masih senantiasa berproses dan selalu berubah sesuai nafsu yang ada dalam hawaku. Lantas untuk apa aku disini menangis dan seolah mengerti. Namun setelah ini aku kembali lagi merajalela seperti sapi yang tak terkendali. Untuk sholat saja aku masih kalah dengan malas, untuk dzikir aku kalah dengan capek, untuk berpuasa aku kalah dengan lemas, untuk sedekah aku kalah dengan kebutuhanku, untuk menolong sesama aku berat dengan langkahku, untuk berguna aku kalah dengan kemampuanku. Jika aku belajar ikhlas, bagaimana caranya dan seperti apa rasanya? Apakah aku sudah pernah merasakannya? Aku bertanya lagi dengan hatiku. Untuk berkorban aku tak bisa. Untuk mengalah aku lebih tak mau. Untuk menang aku harus mengalahkan sesuatu dengan cara tak sedap. Demi mendapat sebuah gelar aku gadaikan harga diri. Kadang terlintas, hidup hanya sekali mengapa tak ku puaskan inginku. Aku punya segalanya. Kecuali 1 = iman. Aku tertunduk, malu. Malam ini aku benar-benar terlihat kecil, tak bisa sombong dan menengadah. Yang kulakukan hanya tunduk dan sujud. Ku ingin malam ini tak berakhir agar aku bisa bermuhasabah diri lebih teliti. Mumpung tersadar iman dalam benakku. Pikirku! Ah, hanya gurauan sekilas tentang intermezo ketidakkhusukannku. Lebih tak mungkin lagi bila aku mampu melawan segala sesuatu yang tak Ia sukai. Melawan yang haram, mendekati yang halal. Sedang alkohol masih senantiasa ku dekap, rokok masih saja ku hisap. Kartu dan nomor masih sering kumainkan, meski terkadang bahkan sering aku mengeluarkan banyak uang. Semua itu kulakukan secara sembunyi karena aku malu dilihat orang. Betapakah aku ini? Aku yakin masih banyak sekali noda menempel ditubuhku. Aku bisa merasa, namun susah untuk menghilangkannya. Terjagaku malam inipun karena aku tak tahan menahan air dalam perutku. Terpaksa bangun dan kulanjutkan sampai sekarang. Hingga aku merasa tak pantas dalam sujud malamku ini. Inilah sepenggal kisah malamku disaat aku merasakan aliran iman mengalir lembut dihari itu. Meski hanya sekelumit, detik keimanan itu mampu menenangkan hatiku. Selengkapnya...

Musafir

Jalan berjalan menukik rasa

Peradaban rasa sudah memuncak langit

Itu hanya lisan

Jalan berjalan menukik rasa

Hati kian mengembara

Mencari Tuan

Selengkapnya...

Senyum Cumullus

Senyummu kau cinta
Mengembang dan membunga bagai mahkota
Ia disana menggema
Getarkan suara
Suara-suara cinta dalam nada
Cinta-cinta sendu dan cinta-cinta duka
Tanpa ceria
Ia memberi keceriaan lewat senyum
Senyum cumullus tulus dengan mulus
Tiada gores kuruspun hunus
Mereka adalah cahya indah yang mesra
merpati cinta yang datang menyapa
Mereka disana bersama
Dalam cinta dan senyum cumullus.
Yogyakarta, 8 Juni 2009
Selengkapnya...

Hijau

“Saatnya tahu isi hati”

Itu yang sekarang ada dalam otakku. Kata orang, hati adalah dasar atau ujung dari pribadi tiap manusia yang mau disebut. Bila ia sudah punya hati, maka nurani akan menari. Padahal sebenarnya aku sendiri tak tahu apa maksudnya?

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Al-Alaq ayat 2)” Tuh, sampai Al-Quranpun berkola alias berkata. Manusia dari segumpal darah, bukankah hati adalah segumpal darah? Jadi kalau hatinya baik, manusianya juga baik, begitupun sebaliknya. Setuju? Hanya nurani nan bijak yang bisa menjawab.

Terus terang aku masih terlalu kecil untuk berpendapat, apalagi untuk berfilsafat. Tidak mungkin hanya. Aku sudah mencapai angka 17 dalam umurku, lalu dengan mudah bisa memasuki dunia filsafah yang kebanyakan diisi oleh kaum lansia. Uh, rugi dong. Masa diriku yang masih hijau ini, harus menjadi tua dalam seketika.

Sekarang umurku baru 10 tahun, kata Bunda aku harus sabar di atas kursi roda sampai umur 20 tahun karena kakiku agak berbeda dari yang lain. Tidak terlihat, tapi dapat kurasakan sakitnya. Kanker tulang yang kuderita, mengharuskan aku duduk manis di atas kursi rodaku ini. Teman setia sekaligus penolongku.

Usai sekolah, aku segera pulang dan langsung istirahat. Si ‘kurso’ menjagaku di samping tempat tidur. Bila aku sedang melukis, Kurso memberi banyak inspirsi. Yah..karena yang kulukis selalu kursi roda dengan beranekaragam corak dan warna. Walau bagaimanapun aku berusaha mempercantik lukisan ‘kursoku’, tetap saja ia benda mati. Anehnya, ‘kurso’ selalu hidup dalam hatiku.

“Rani, jusnya sudah diminum atau belum?” panggil Bunda ditengah lamunanku yang belum usai. Tak urung, lamunanku memang tidak pernah usai sampi ajal menyapa.

“Ya Bun, sudah kuhabiskan dari tadi. Kerongkonganku sudah gersang sampai sulit untuk berkicau.” Jawabku sekenanya.

“Anakku ini makin hari pintar merangkai kata. Bagaimana lukisanmu?”

Rani diam, masih berbaring dengan lemah.

“Tumben gak ada komentar? Ada yang salah nak?

NO. No matter.

“Bunda merasa tetap ada yang lain. Tapi..itupun kalau Rani mau cerita sama Bunda.”

Masih hening, Rani diam seribu bahasa. Terlihat jelas Bunda berusah keras mencairkan suasana. Menggali informasi yang mungkin bisa didapat.

“Hei lihat, kursonya knapa kamu kasih warna hijau?” Tanya Bunda setelah 10 menit terdiam.

“Hijau itu subur. Menurut cerita melambangkan surga, karena didalamnya banyak kesejukan dan kenyamanan. Disitu aku juga melukis matahari hijau.” Ujarku sekenanya.

Bunda membalas dengan senyuman. “Makan yuk nak!”

“Iya Bun.”

Megapa hijau? Sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu. Saat melukis, warna itulah yang muncul dalam benakku. Orang bilang warna hijau adalah lambang surga, tapi orang yang mana aku sendiri tidak tahu. Yang jelas, aku mengiginkan surga.

-00-

Masih, aku meratapi nasib dengan penyakit ganas yang kuderita ini. Prediksi dokter, umurku hanya mencapai 20 tahun. Itupun kalau benar, karena yang menentukan hanya Allah bukan dokter. Sejak saat itu aku hanya bisa menangis lewat senyuman.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqoroh 155-157)

Berita gembira telah sampai ditelingku. Masihkah aku harus bersedih? Pantaskah? Bukankah Allah meninggikan derjad orang yang mampu bersabar. Entahlah, aku masih terlalu dini untuk diajak dewasa. Apalagi dipksa untuk mengerti isi Al-Quran, yang tua saja belum tentu dapat paham dengan baik. Kalimat dalam Al-Quran memang mudah untuk dibaca, namun sulit untuk dimengerti apalagi untuk diterapkan dalam kehidupan. Wallahu a’lam.

“Kunci orang sakit adalah bahagia Nak. Sesakit apapun kamu sekarang, hiburlah hatimu dengan keikhlasan. Ingat, bekal untuk ke surga sangat sulit. Kamu harus mampu melewati ujian ini untuk sampai kesana.”

Aku belajar dewasa dari Bunda, ia mengjriku lewat lisan. Mencontohi lewat perangai, memberi kasih sayang lewat perhatian. Bunda juga sigle parent yang cantik dan menarik. Banyak rekan kerjanya yang mengantri untuk diseleksi. Tak banyak dari mereka yang bisa memikat hatiku, kecuali Om Renaldi. Atasan Bunda yang paling muda. Maklum, Bunda hanya staf marketing biasa.

Aku sangat sayang pada Om Rei, tapi sepertinya ia kurang tepat untuk Bunda. Selain Om Rei lebih muda, ia juga sepertinya hnya saying padaku bukn pada Bunda. Aku tahu Om Rei adalah orang tak tegaan, karena itu ia iba padaku. Ia pernah cerita padaku bahwa ia suka pada wanita dewasa yang muda, intelek, manis, selalu bias membuat ceria dan yang terpenting adalah mau menerimanya apa adanya karena sejak kecil ia sudah yatim piatu yang besar di sebuah panti.

Bila dirata-rata, Bunda masuk dalam kriteria Om Renaldi kecuali satu kata. Muda. Itulah yang sedang aku pikirkan. Andai umur Om Rei 40 th atau 50 th, tentu tidak akan repot lagi. Faktanya Om Rei 25 th, Bunda 42 th. Gimana?

-00-

Langit biru cerah dengan awan putih deselingi cercah cahaya dari sang surya. Memantul hijau di kolam penuh lumut dibelakang rumah. Banyak orang berdatangan ditengah parahku. Seperti pesta duka yang sebentar lagi akan terlaksana. Banyak orang berdatangan ditengah parahku. Gaun hijau kupakai bersama kurso, entah pantas atau tidak. I don’t care.

Sepasang kilau perak memantul damai. Pernikahan sacral tlah usai. Tiba saat menghabiskan sesajian bekal dari kedua mempelai. Seyum kuadrat Nampak cantik dibibir Bunda. Tapi tidak kulihat itu sedih atau bahgia, aku hanya bias merasakan lega melihat ini semua. Ia mempunyai keluarga baru bersama Om Rei. Aku sekarat.

Langit mendung tiba-tiba. Gerimis perlahan datang ditemani hembusan angina dingin yang merasuk ke pori kulit ari. Cahaya itu dating. Aku harus pulang. Umurku belum 20 th, masih kurang 9 tahun dari prediksi. Allah berkehendak lain. Kunfayakun. Tak ada yang tak mungkin. Buah sabar itu mahal. Aku terjatuh dalam gerimis dirumput hijau orang tuaku. Mereka berduka dalam cahaya samar diangkasa. Surga. Semoga kelak kita bertemu disana. Amin.

-sekian-

Selengkapnya...